Tampilkan postingan dengan label DEWA n ARCM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DEWA n ARCM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Januari 2009

Dhani.......



Dhani Ahmad Prasetyo
Laki-Laki
Islam
Surabaya, Jawa Timur, 26 Mei 1972

Biografi :
Ahmad Dhani, dikenal sebagai pentolan grup Dewa 19, pencipta lagu dan juga sebagai produser rekaman. Sosok sebagai musisi dikenal penuh kontroversial dan sensasi, baik dalam syair lagunya maupun tingkah polah kehidupan sehari-harinya. Sosok kontroversinya diperlihatkan lewat syair-syair lagunya yang 'terlalu dalam' dan memiliki makna bias hingga memunculkan pertentangan. Terlahir di Surabaya pada 26 Mei 1972, Dhani juga pernah menghadapi masalah saat album LASKAR CINTA menuai protes dari kelompok Islam garis keras. Ayah tiga anak ini dianggap melecehkan atas penggunaan logo albumnya yang dianggap suci. Meski tetap merasa tidak bermaksud melecehkan agama tertentu, Dhani akhirnya bersedia melakukan perubahan pada logo tersebut. Pria bernama lengkap Dhani Ahmad Prasetyo ini juga pernah diadukan ke Polisi oleh penulis, Yudhistira ANM Massardi, karena dianggap menjiplak judul Arjuna Mencari Cinta yang digunakan untuk salah satu judul album Dewa 19. Meski melalui perseteruan panjang, Dhani akhirnya bersedia meminta maaf di media dan berakhir dengan perdamaian. Dhani kini masih tetap eksis bersama Dewa 19, meski beberapa kali terjadi penggantian personel. Bahkan semakin melebarkan sayap dengan bendera Republik Cinta Artis Management, yang menaungi grup-grup baru miliknya, The Rock, Dewi-Dewi, White Snow, Andra&The Backbone dan Dewa 19 sendiri.Dhani pernah menikah dengan Maya Estianty atau populer dengan nama Maia Ahmad. Dari perkawinannya dengan perempuan asal Surabaya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak laki-laki, yang diberi nama Ahmad Al Gazali, El Jalaluddin Rumi, dan Ahmad Abdul Qodir Jaelani. Nama-nama tersebut diambil dari nama-nama tokoh sufi yang menjadi idola Dhani.Pernikahan Dhani-Maia mulai retak setelah Maia semakin populer bersama Ratu. Dhani mengklaim Maia terlalu sibuk dan menelantarkan anak-anak mereka. Setelah melalui perseteruan panjang di media dan pengadilan agama, mereka resmi bercerai pada 23 September 2008. Hak asuh ketiga anak mereka, Al, El, dan Dul jatuh ke tangan Maia. Untuk keputusan itu, Dhani berniat mengajukan banding.

ONCE......



Elfonda Mekel
Laki-Laki
Ujung Pandang, 21 Mei 1970


Biografi :
Elfonda Mekel atau yang populer dikenal dengan nama Once Dewa, lahir 21 Mei 1970. Once menjadi vokalis grup musik Dewa 19, yang dikomandani Ahmad Dhani, sejak vokalis sebelumnya, Ari Losso dikeluarkan dari grup tersebut.Sejak SMP, Once telah menyukai olah vokal dan bermusik. Selain menyanyi Once juga cukup menguasai berbagai alat musik antara lain piano, drum, dan gitar. Karier bermusiknya dimulai ketika ia diajak oleh adiknya untuk mengikuti festival antar-SMA di Jakarta yang diadakan oleh Cockpit enterprise. Setamat dari SMA, Once menjadi vokalis sebuah band dan berkesempatan mengiringi penyanyi Ita Purnamasari. Once juga pernah bergabung dengan beberapa band antara lain Brawijaya dan Dimensi. Band-band ini lebih sering membawakan lagu penyanyi lain (cover version). Baru setelah bergabung dalam band Java Burns, yang kemudian berubah menjadi Bottoms Up (cikal bakal grup band Getah), Once membawakan lagu - lagu karya sendiri. Pengalaman rekaman pertama Once adalah di awal tahun 1990-an sebagai vokalis dalam sebuah album kompilasi lagu pop dan pada tahun yang sama mengeluarkan mini album yang bertajuk SERIBU ANGAN bersama Pay (BIP), Ronald (ex GIGI), dan Alm Andi Liani.Selama tahun 1993 hingga 1997, Once berhenti bernyanyi karena ada gangguan pada pita suaranya. Waktu yang cukup lama itu dihabiskan Once untuk menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (lulus tahun 1996) dan bekerja di sebuah perusahaan konstruksi serta bergabung dalam proyek penelitian LIPI. Baru pada 1998, Once mulai serius ke dunia musik, bersama Ahmad Dhani menggarap rekaman untuk film KULDESAK dan pada 1999, Ia resmi bergabung dengan Dewa 19.Once menikah dengan Rietmadhanty Angelica Tauchid atau biasa dipanggil Ima, putri Henny Poerwonegoro, pada 20 Desember 2005. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang lahir pada 20 Oktober 2006

huah....once yach



Once rupanya kerap pulang bareng perempuan cantik. Beda hari, beda perempuan. Tapi semuanya cantik-cantik. Kebiasaan itu dilakoninya belasan tahun lalu. Tepatnya saat masih duduk di bangku kuliah Universitas Indonesia."Di kuliah jarang pacaran. Saya justru sering nebeng cewek cakep yang pulangnya searah," ungkap Once yang ditemui di Reuni Alumni UI di UI Depok, Jawa Barat, Jumat (11/7/2008) petang. Akibat kebiasaan itu, vokalis 'Dewa 19' tersebut dikira sering gonta-ganti pacar. Tahun 1989 silam Once resmi jadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Setelah lulus katanya ia sempat bekerja di sebuah lembaga bantuan hukum.Namun pemilik nama asli Elfonda itu lebih memilih banting stir jadi musisi. Beruntung, orangtua Once saat itu mendukung keputusannya. "Karena saya bergabung dengan band terkenal, ya ini takdir hidup saya," tandasnya.Penyanyi kelahiran 21 Mei, 38 tahun silam itu merasa bersyukur jadi mahasiswa fakultas hukum. "Justru kalau di kedokteran mungkin bisa di DO," canda Once seraya berlalu.(dit/dit)

Kamis, 01 Januari 2009

Grup Band Termahal di Indonesia, Slank dan Dewa 19 Masih Juara

JAKARTA - Serbuan band-band baru yang sepertinya menyingkirkan dominasi pemain-pemain lama, tampaknya, tidak berpengaruh besar terhadap band-band yang sudah punya nama. Sepanjang 2008, band-band besar masih menempati posisi puncak dalam hal mendulang rupiah. Berdasar penelusuran Jawa Pos, grup band Slank menjadi salah satu band dengan bayaran paling mahal di Indonesia saat ini. Untuk satu kali show, pemilik lagu Gosip Jalanan itu dibanderol Rp 100 juta, sejajar dengan Dewa 19.Menurut Masto, manajer Slank, band yang beranggota Kaka (vokal), Bimbim (drum), Abdee (gitar), Ridho (gitar), dan Ivanka (bas) itu sudah menghitung-hitung bahwa harga tersebut merupakan angka wajar. Rata-rata dalam satu bulan, Slank tampil di empat panggung. Dengan kata lain, dari aktivitas panggung saja, uang bersih yang mereka terima mencapai Rp 400 juta per bulan. Uang itu, kata Masto, digunakan untuk menghidupi personel, manajemen, dan membantu label yang mereka dirikan, Slank Record. "Tapi, untuk acara sosial, kami sering juga tidak dibayar," ujar Masto kepada Jawa Pos kemarin (29/12).Begitu pun Dewa 19. Menurut Ahmad Dhani, untuk sebuah tur, tarif band tersebut dibanderol Rp 100 juta. "Maka, kalau lagi ada masalah terus sampai membatalkan tur, bisa dihitung betapa banyak kerugiannya," katanya saat ditemui di studio Dewa 19 belum lama ini.Untuk show eceran alias satuan, Dewa 19 bisa lebih mahal. Menurut Marissa, saudara kandung Dhani sekaligus pengurus Republik Cinta Management, tarifnya sekitar Rp 125 juta.Grup band Gigi sedikit berbeda. Sebagai band papan atas, grup yang terdiri atas Armand (vokal), Budjana (gitar), Thomas (bas), dan Handy (drum) itu tidak pasang tarif terlalu tinggi. Tarif untuk satu kali show rata-rata Rp 85 juta.Hal itu sekaligus menjadi salah satu strategi. Terbukti, Gigi menjadi band yang konsisten dan termasuk rutin keliling dari panggung ke panggung. "Maka, job Gigi itu terus dan stabil. Dalam satu bulan, bisa 15 kali manggung, bahkan kadang lebih," ujar Ria H.D., kakak kandung Armand yang juga aktif di event organizer (EO) penyelenggara konser lokal.Ria menambahkan, dalam satu hari, Gigi bisa tampil dua kali. Salah satunya saat Ramadan belum lama ini. "Bulan puasa itu, satu bulan 25 kali manggung," paparnya. Bila sekali manggung dipukul rata Rp 25 juta, dalam sebulan itu Gigi mendulang Rp 625 juta. Lain halnya Padi. Meski pernah merasakan bayaran Rp 300 juta dalam satu kali pentas, saat ini mereka memasang tarif fleksibel. "Bergantung siapa penyelenggaranya, lokasi, sponsor, dan bujet. Tidak kami patok," kata Ricky, sang manajer.Sementara itu, untuk mengundang grup band Peterpan, penyelenggara harus merogoh kocek hingga Rp 90 juta. Namun, jika untuk road show minimal tampil di lima kota, Ariel dan kawan-kawan bisa didatangkan dengan harga lebih hemat Rp 10 juta menjadi Rp 80 juta. "Dari dulu (sejak popularitas meningkat, Red) kami memang segitu. Kalau lihat dari kondisi dan kemampuan EO, sponsor, harga itulah untuk sekelas Peterpan," ungkap Budi Soeratman, manajer band asal Bandung itu.Dengan bayaran itu, Peterpan biasanya tampil dengan durasi sekitar dua jam atau rata-rata 12 lagu. dalam satu bulan selama masa promosi album, Peterpan rata-rata tampil enam kali.Tarif Nidji juga tidak jauh berbeda. Sebagai band yang sedang digemari, untuk mengundang Giring dan kawan-kawan, dibutuhkan biaya Rp 75 juta. "Kami buka harga segitu. Masih bisa nego, bergantung hal lain," kata Agung Febriyanto alias Vele, manajer Nidji. Menurut Vele, saat ini, jadwal panggung Nidji per bulan sekitar 10-15 kali.Harga band Ungu juga dikabarkan mendekati angka Rp 100 juta. Namun, hingga berita ini ditulis, tidak ada satu pun pihak dari band pelantun Demi Waktu itu yang bisa dikonfirmasi.Di kategori penyanyi solo, para diva pop Indonesia masih menjadi yang termahal. Harga suara Krisdayanti, Titi D.J., Ruth Sahanaya, Rossa, dan Vina Panduwinata berkisar Rp 75 juta per pertunjukan. Menurut salah seorang yang dekat dengan manajemen penyanyi-penyanyi top wanita itu, sekalipun mengundang paket 3Diva, biayanya tetap dihitung per personel. Maka, harganya menjadi Rp 75 juta dikali tiga. "Tapi, itu tarif reguler. Kadang juga musisi bisa menaikkan harga bergantung animo masyarakat," ungkap sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan tersebut

Selasa, 30 Desember 2008

Rocker Muslim Ini Menyampaikan Dakwah Toleransi Melalui Hentakan Drum

Rocker Muslim Ini Menyampaikan Dakwah Toleransi Melalui Hentakan Drum
Oleh Mary Kissel
15 Agustus 2006Jakarta,
Indonesia

"Mengapa saya memilih beat Arab? Karena Muslim pikir ia lagu Muslim. Itu bukan! Itu lagu universal."
Demikian jelas Dhani yang bergaya rambut-poni, berawajah imut, pendiri salah satu band rock ‘n’ roll paling populer di Indonesia, Dewa, pada suatu sore baru-baru ini di sini. Sambil meluncurkan sebuah lagu yang mengejutkan dari album terakhir grup itu, "Republik Cinta," Dhani menjelaskan bagaimana keyakinannya, tasawuf — suatu bentuk Islam mistik, toleran — mengilhami musiknya. Di balik penampilan-penampilannya, Dhani, yang seperti kebanyakan orang Indonesia hanya disebut dengan satu nama, adalah mahabintang rock yang sangat berbeda. Dia sedang mempromosikan Islam moderat — secara vokal — di sebuah negeri sangat penting dalam perang melawan teror.
Merebah ke sandaran kursi minivannya saat Dhani melepas lelah begitu saja, saya berusaha menuliskan kata-katanya dengan cepat, bersusah payah mendengarkan saat hentakan bass membentur kursi. "Wahai jiwa yang tenang!" ("O serene soul!"), menyentak pembukaan riff dari lagu pertama, "Laskar Cinta," dengan sebuah hentakan hiruk-pikuk drum mengiringinya. Judul lagu itu di Indonesia, "Laskar Cinta," merupakan sebuah permainan pada "Laskar Jihad" ("Warriors of Holy War"), kelompok teroris yang terkait dengan al-Qaeda, tumbuh di Indonesia. Tapi lagu itu tidak jauh berbeda dari apa yang mereka dakwahkan; Dhani menyanyikan kebebasan religius, menjalin rujukan ayat-ayat al-Qurani yang bisa dengan mudah dikenali oleh para pendengar utama Dhani di Indonesia, negeri Muslim terbesar dunia, dan tetangga Malaysia.
Itu merupakan strategi yang disadari sepenuhnya; orang yang sinis bahkan bisa salah paham dan menilainya sebagai permainan pasar. Dhani menjelaskan bahwa dia menyajikan pesan toleransi dan damai di samping hentakan musik rock Barat, kuat dan berjingkrak, diselang-seling dengan ritme Arab. Tipe-tipe Barat-minded dan bahkan Muslim yang sudah mengalami radikalisasi membeli albumnya — dan, satu harapan, visi tolerannya, juga. Sejauh ini, cukup bagus: Album baru grup itu terjual satu juta kopi di pasar legal di Indonesia saja; perkiraan versi bajakannya terjual tiga atau empat kali jumlah aslinya. Lagu single album tersebut baru-baru ini menempati tangga no.1 di Indonesia selama tiga minggu, berlangsung sejak akhir Desember hingga Januari, dan videonya bertengger di puncak tangga sepuluh terbaik MTV. EMI berencana segera merilis versi berbahasa-Inggris musik Dewa ke pasar-pasar asing.
Itu sangat cerdas, dan sangat tepat; memang, beberapa track Dewa bisa dengan mudah disalahpahami berasal dari sebuah band pop Saudi Arabia — yang salah seorang anggotanya telah mendengarkan Queen dan rock klasik saat kanak-kanak. Tapi ketika syair terakhir "Laskar Cinta" memenuhi mobil itu, ia menggemakan ayat suci ini: "Wahai umat manusia! Kami ciptakan kamu dari satu jiwa, laki-laki dan wanita, dan membuatmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu bisa saling mengenal, dan tidak saling bermusuhan." Sebaris yang lebih mengesankan dibandingkan "Bohemian Rhapsody," dan dengan pasti bukan apa yang kelompok garis keras ajarkan kepada Dhani di sekolah mereka.
Dhani, 34, mungkin merupakan seorang yang menggoda orang lain demi perdamaian. Kakeknya telah berpartisipasi dalam gerakan gerilya Darul Islam, yang di antara anggotanya termasuk di antara pemimpin kelompok teroris yang merencanakan bom-bom Bali beberapa tahun yang lalu. Ayah Dhani, Eddy mengikuti jejak langkah kakeknya, terhitung menonjol dalam sebuah organisasi yang tunduk pada dakwah ajaran Wahhabi. Ibu Dhani kelahiran-Indonesia, Joyce, terbukti seorang yang mempengaruhi lebih moderat — dia seorang Katolik Roma yang masuk Islam ketika menikah. (Tapi "dia belajar Islam dariku, bukan dari ayahku," ucap Dhani dengan tenang.)
Ketika kanak-anak, Dhani mengikuti sekolah Wahhabi. (Wahhabisme, sekte Muslim terkemuka di negara-negara Arab seperti Saudi Arabia, mempromosikan ketundukan kaku; Tasawuf secara historis adalah dominan di Indonesia, di kalangan Muslim). Tapi pesan Wahhabi tidak bertahan dengan Dhani: Dalam usia belasan, anak muda itu memberontak keluar dari sekolah menengah dan memulai Dewa, juga pernah disebut Dewa 19, sebuah rujukan pada perubahan personal ketika anggota band itu berusia 19 tahun. Nama itu, sebuah akronim nama-nama para pendiri, yang secara ironik bermakna "Tuhan" dalam bahasa Sanskerta. Lagu-lagu yang menyenangkan dari grup itu segera populer; sekarang di Indonesia, Dhani adalah mahabintang setara dengan Bon Jovi atau Bono.
Namun pesan Dhani secara rasional lebih kuat — dan lebih bermakna — dibandingkan pesan lagu-lagu para rocker Barat. Sejak jatuhnya rejim otokratis Suharto pada tahun 1998 dan terbitnya demokrasi, dukungan untuk partai-partai politik garis keras di Indonesia sudah tumbuh. Sementara kelompok-kelompok seperti itu sama sekali tidak didukung oleh mayoritas, kebanyakan Jawa yang moderat, peristiwa-peristiwa terbaru — seperti seruan publik untuk menetapkan syari’ah, atau hukum Islam, proses pengadilan editor Playboy edisi Indonesia, dan demonstrasi-demonstrasi anti-Wahhabi yang berbahaya — menunjukkan pertumbuhan pengaruh Wahhabi di kepulauan itu, seperti menjamurnya pemakaian jilbab oleh para wanita di ibukota Jakarta.
Dhani telah merespon tidak hanya melalui musiknya, tapi dengan mengikuti sebuah kelompok religius moderat kecil — tapi sedang tumbuh — yang sedang mencoba mendidik rakyat Indonesia tentang bentuk-bentuk Islam toleran. Diorganisasi oleh LibForAll, sebuah yayasan kecil AS. yang berkedudukan di Winston-Salem, N.C., para anggotanya termasuk mantan presiden Indonesia Presiden Abdurrahman Wahid, seorang pemimpin besar sufi; Abdul Munir Mulkhan, seorang mantan anggota pengurus Muhammadiyah yang terkemuka, salah satu organisasi Muslim terbesar di dunia; dan Azyumardi Azra, seorang intelektual Islam yang berani, di antara yang lain.
Ada banyak resiko bagi orang-orang religius moderat yang vokal seperti orang-orang yang berafiliasi dengan LibForAll. Tahun lalu, setelah Dewa merilis sebuah album yang menampilkan kata untuk "Allah" dalam tulisan Arab pada cover albumnya, Dhani telah dicap sebagai murtad. Khawatir atas keselamatan istrinya, Maia, dan ketiga anaknya, Dhani memindahkan mereka ke sebuah hotel. Hanya ketika Abdurrahman Wahid melakukan konferensi pers yang mendukung bintang rock itu bahwa Dhani merasa cukup aman untuk membawa pulang keluarganya.
Dhani tampak tidak gentar dengan misinya. Ketika saya bertanya tentang itu, dia tertawa, menuturkan keyakinannya (anak-anaknya dinamai dengan nama-nama para wali sufi), dan menghidupkan tape stereo mobilnya.
Saat kami merayap karena kemacetan lalu lintas, salah seorang rekan Dhani mengingatkan saya bahwa Dhani bukanlah yang pertama punya panggilan ini. Dalam sebuah jaringan historis yang sama, penyelamat dan penasehat Dhani, Gus Dur, adalah seorang keturunan langsung Syeikh Siti Jenar, seorang wali sufi abad ke-16 yang juga menyebarkan dakwah toleransi di hadapan kelompok militan di Jawa. Dia telah dieksekusi karena keyakinannya, dan legenda menuturkan bahwa darahnya menyembur menjadi tulisan "Allah adalah indah!" di pasir saat dia wafat. Belakangan dia dimuliakan sebagai wali Allah yang sebenarnya. Dalam catatan untuk albumnya yang terakhir, Dhani berterima kasih kepada Syekh Lemah Abang ("Syeikh Tanah Merah") — sebuah rujukan kepada kota tempat Siti Jenar pernah tinggal.
Dhani tertawa lagi ketika saya bertanya apakah cerita kematian Siti Jenar memang benar, dan apakah dia dibandingkan dengan wali. Dia mengangguk, dan tersenyum. Dan kemudian dia menghidupkan musik lagi.[]Kissel adalah editor halaman editorial The Wall Street Journal Asia’.
URL untuk artikel ini:http://online.wsj.com/article/SB115559561301635520.html?mod=todays_us_personal_journal

ATAS NAMA CINTA

Atas Nama Cinta
Oleh Amanda Syarfuan


Seorang pemain yang kecil; seorang yang gandrung rock bergaya metro-goth; yang ketiga hanya berkelana ke dalam dunia pop rock; yang keempat sedang belajar teknik menulis-lagu; dan yang kelima adalah yang menyatukan mereka.
Atas nama cinta mereka bersatu -- dan cinta itu sendiri menjadi pinsip yang membimbing musik mereka.Tepatnya dua puluh tahun yang lalu, pada tahun 1986, empat anak sekolah dari SMA Negeri 6 Surabaya memutuskan membentuk sebuah rock band. Mereka menamai grupnya Dewa 19. Armad dengan mimpi-mimpi besar dan sebuah nama yang laden dengan signifikansi [catatan: Dewa berarti “tuhan” dalam bahasa Jawa dan Sanskerta], secara perlahan mereka maju, tanpa menyadari betapa keputusan mereka membentuk band akan mempengaruhi hidup mereka pada tahun-tahun yang akan datang.
Seperti beberapa band di masa lalu, Dewa 19 tidak bebas dari masalah, dari perubahan personel hingga gosip dan kesulitan-kesulitan hukum. Seperti bunyi ungkapan, ‘Jika sesuatu tidak membunuhmu, ia hanya akan membuatmu lebih kuat.’ Di sini pada tahun 2006, pataka Dewa 19 tetap tertanam kuat di puncak blantika musik Indonesia.Republik Cinta, album terbaru Dewa 19, baru dirilis oleh EMI Indonesia. Konon kontrak telah dibicarakan secara langsung dengan EMI Asia Tenggara, di Hong Kong. Keputusan Dewa membiarkan label kuno mereka didasarkan pada suatu keinginan untuk mengembangkan sayapnya secara internasional. “Saya tidak pernah mengatakan ‘Go international’, tetapi, ‘Go Asia!’ Going international terlalu tinggi bagi orang Indonesia seperti saya,” kata pemimpin Dewa 19 Ahmad Dhani, merendah.
Jika seorang artis bisa dikatakan menjadi favorit para jurnalis [Indonesia], artis itu adalah Ahmad Dhani. Di bawah penampilannya yang arogan, seseorang akan mengetahui rasa percaya diri yang kuat pada jawaban merendah Dhani pada pertanyaan-pertanyaan para jurnalis. Sikapnya juga memancarkan keyakinan dalam karya artistik baru yang dia sajikan pada publik. Sekalipun tergoda oleh pejualan yang fenomenal pasangan band yang baru dibentuk, Dhani mengaku tetap tidak tergoda dalam musiknya. Untuk mengilustrasikan hal ini, dia mengemukakan sebuah analogi menarik. “Misalnya, sebuah kursi yang dibuat oleh Da Vinci adalah seni, sementara yang dibuat oleh Ligna [sebuah merk furniture yang populer] adalah murni fungsional, bukan seni.
Musik yang fungsional bisa disebut hiburan,” kata dia. “Jika Dewa memilih membuat musik yang seperti furniture Da Vinci, maka ia tidak bisa dibandinkan dengan produk Ligna, yang penjualannya tentu lebih tinggi.” Kalimat terakhir ini dibenarkan oleh Dhani melalui telpon setelah wawancara, untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam menafsirkan analoginya.“Sebenarnya, untuk meningkatkan permintaan bagi album baru ini, kami tergoda untuk membuatnya sedikit lebih 'jelek,' tapi kami tidak bisa! Karena karya yang luar biasa tidak bisa dibuat untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar. Itulah Indonesia. Terkadang kami, juga, bisa tergoda untuk mendongkrak penjualan. Jika lirik pada Laskar Cinta [single utama pada album terbaru kedelapan Dewa, Republik Cinta] diubah menjadi, ‘Oh Nurlela!’ atau ‘Oh Gadis Manis!’, mungkin ketika itu akan ada permintaan pasar yang lebih besar pada lagu tersebut, karena ia akan lebh romantis, atau lucu, atau sesuai dengan selera pasar dibandingkan yang bisa ia lakukan,” kata dia, sambil mencontohkan nada lagu tersebut sepertu menggumam. [sebenarnya, segera setelah peluncurannya, Laskar Cinta menjadi lagu hit #1 di Indonesia, sementara video musiknya melesat ke tangga #1 program MTV Asia Ampuh. Lirik lagu itu diilhami oleh ayat-ayat al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad saw.] “Itulah godaan. Istriku bahkan menyarankan menggunakan lirik-lirik lain untuk mengejar penjualan."“Mengapa saya tidak mengubah lirik-lirik seperti yang dia sarankan? Karena saya punya missi mempromosikan kedamaian dan toleransi, dan bahwa lagu ini betul-betul sesuai dengan missi itu,” tambahnya. Mungkin banyak pendengar akan bingung ketika mereka mendengar judul lagu itu, Laskar Cinta, yang identik dengan judul album Dewa sebelumnya, yang ketujuh. Sekali lagi, Dhani mengaku itu dilakukan untuk menjadi sesuatu yang sama sekali tidak biasa, yang telah dilakukan oleh band favoritnya, Queen. Namun bahkan pada judul lagu itu, kebingungan juga bisa muncul dari fakta bahwa band itu kini merujuk pada penggunaan angka 19 setelah nama Dewanya. Sungguh sayang Dhani tidak menuturkan maksudnya dengan lebih jelas, taruhlah bahwa selalu ada sebuah makna, dan pesan, yang signifikan yang tersembunyi di balik judul setiap lagu dan album Dewa. “Itu hanya kebetulan, he?” jawab Dhani, tertawa.
Ketika mendengarkan lagu Laskar Cinta, seseorang mendengar pengaruh Timur Tengah yang kuat. Sebenarnya, beberapa orang yang melakukan review sebelumnya telah terkejut dan membuat kesalahan menganggap bahwa Dewa telah mengubah gaya musiknya untuk menyamakan Arab dan Dangdut [sebuah gaya musik Indonesia yang dikawinkan dengan pengaruh Arab dan Bollywood]. “Saya tidak setuju bahwa lagu itu masuk dalam kategori musik Arab. Bahkan, itu adalah musik dunia yang sedang kami coba.
Gaya Arab hanya menyertai permulaan ayat-ayat; pada refrain pertama, gaya itu berubah pada Latin,” kata Dhani. “Sebuah lagu tidak harus kompleks untuk bagus, tapi itu tidak berarti kita selalu harus membuat lagu-lagu seperti Separuh Nafas, bukan?” [Separuh Nafas, atau Half (My) Breath, merupakan sebuah megahit album kelima Dewa, Lima Bintang, yang terjual 1.8 juta kopi di pasar reasmi dan hampir 8.5 juta di seluruh negeri.]. “Seseorang harus selalu mengevaluasi dinamika sebuah lagu, dan tidak terjebak dalam membuat lagu-lagu kuno yang sama berulang-kali

link na
http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/con…01559.html